Problematika Karakter Peserta Didik Dalam Pembelajaran di Masa Pandemi
Nama: Muhammad Harits Alfarizi
Nim: 201190421
Kelas: PAI M
Problematika
Karakter Peserta Didik
Mengenai permasalahan guru, Covid-19
juga sangat berdampak pada peserta didik, pelajaran yang biasanya dilakukan di
dalam kelas dengan suasana banyak teman, sekarang harus berbanding terbalik
dengan kondisi yang mengharuskan peserta didik belajar di rumah saja. Apalagi
dengan melihat kemampuan yang dimiliki peserta didik berbeda, serta daya serap
masing-masing peserta didik pastinya juga sangat berbeda. Hal ini secara
otomatis akan berdampak pada prestasi dan motivasi peserta didik dalam
pembelajaran. Dimana pada prosesnya pembelajaran yang biasanya dilaksanakan di
sekolah dengan tatap muka langsung dengan bapak/ibu guru dan teman-teman tidak
dapat dilakukan pada masa pandemi ini.
Hal inilah para siswa diharuskan
belajar dari rumah (BDR), untuk itu guru juga diharuskan menyiapkan perangkat
pembelajaran yang memungkinkan siswa untuk belajar dari rumah. Kondisi ini
membuat guru harus mengubah strategi belajar mengajarnya. Penggunaan metode
pengajaran yang tepat maupun perilaku dan sikap guru dalam mengelola proses
belajar mengajar sangat dibutuhkan dalam pembelajaran selama program belajar
dari rumah (BDR). Semua ini dilakukan untuk memberikan akses pembelajaran yang
tidak terbatas ruang dan waktu kepada peserta didik selama diberlakukannya masa
darurat Covid-19.
Ada beberapa hambatan yang dihadapi
peserta didik dalam pembelajaran daring, yaitu:
1. Pertama,
peserta didik kurang aktif dan tertarik dalam mengikuti pembelajaran daring
meskipun mereka didukung dengan fasilitas yang memadai dari segi ketersediaan
perangkat komputer, handpone/gadget, dan jaringan internet.
2. Kedua,
peserta didik tidak memiliki perangkat handpone/gadget yang digunakan sebagai
media belajar daring, kalaupun ada, itu milik orang tua mereka. Jika belajar
daring, mereka harus bergantian menggunakannya dengan orang tua, dan mendapat
giliran setelah orang tua pulang kerja.
3. Ketiga,
sejumlah peserta didik tinggal di wilayah yang tidak memiliki akses internet.
Mereka tidak dapat menerima tugas yang disampaikan oleh guru baik melalui
whatsapp atau kelas maya
4.
Keempat, mengingat perjalanan pembelajaran
daring sudah berlangsung sekitar hampir setahun sejak pertengahan Maret 2020,
menurut beberapa peserta didik, terlalu lama pembelajaran daring membuat mereka
malas dan membosankan.
Dari latar belakang keadaan orang tua
peserta didik, ternyata ikut mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran daring,
misalnya latar belakang sosial ekonomi orang tua peserta didik. Saat pembelajaran, mereka rata-rata bekerja di
luar rumah, baik bekerja di sektor pemerintah, swasta maupun wiraswasta, hingga
nyaris tidak bisa memantau dan mendampingi anak-anaknya belajar, apalagi
membimbing langsung dan memecahkan kesulitan yang mereka hadapi saat belajar.
Sisi lain, sebagian orang tua mengeluh karena pembelajaran Online menambah
biaya pengeluaran. Karena itu mereka berharap pemerintah segara mengubah
kebijakannya ke belajar tatap muka sebagaimana biasa meskipun dijadwalkan
dengan sistem block/shif.
Oleh karenanya untuk meminimalisir
hambatan pembelajaran daring, terdapat beberapa solusi yang bisa diterapkan,
yaitu:
1. guru
hendaknya menyiapkan materi pembelajaran semenarik mungkin, seperti penyajian
materi dalam slide powerpoint disertai video pembelajaran agar materi lebih
hidup dirasakan oleh peserta didik.
2. dalam
hal keterbatasan penguasaan IT, guru dapat menggunakan teknologi yang
pengoperasiannya lebih sederhana, seperti aplikasi whatsapp.
3. peserta
didik yang “kurang peduli” mengikuti pembelajaran daring, dapat diatasi dengan
proaktif menghubungi (via telepon/video call) peserta didik dan orang tuanya
secara personal, apabila tidak memungkinkan untuk melakukan home visit.
4.
adapun solusi lain, yang bisa gunakan
adalah, guru mata pelajaran bersama guru BK berusaha mencari tahu apakah
kendalanya dengan menghubungi orang tuanya. Bila kendala memang anaknya malas,
maka guru BK akan meminta pada orang tuanya agar dapat mendampingi pelaksanaan
BDR anaknya.
Komentar
Posting Komentar